“Tetapi perhiasanmu ialah
manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa
yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat
berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3:4
Dari renungan sebelumnya (Harmoni dalam Pernikahan 1)
telah kita pelajari mengenai kunci untuk meraih harmoni dalam
pernikahan yaitu dengan menjaga komunikasi dan keterbukaan satu sama
lain. Selain itu perlu adanya upaya dari suami maupun isteri untuk dapat
meraih keharmonisan dalam pernikahan.
Usaha yang berkesinambungan perlu dijaga agar keharmonisan dapat diraih
tidak hanya untuk jangka pendek saja, melainkan untuk jangka panjang, karena pernikahan adalah untuk seumur hidup.
*courtesy of PelitaHidup.com
Mari kita lihat apa yang Firman Tuhan katakan bagi suami dan isteri berikut ini.
.
1. Isteri
“Demikian juga kamu, hai
isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara
mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan
dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana
murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. ” 1 Pet 3:1-2
Tuhan telah menetapkan seorang wanita menjadi isteri dari seorang pria
untuk menjadi penolong bagi suaminya. Sedangkan suami ditetapkan oleh
Tuhan sebagai kepala rumah tangga. Otoritas dari Tuhan turun melalui
suami hingga kepada seluruh keluarganya.
*courtesy of PelitaHidup.com
Oleh karena itu Tuhan menetapkan juga bahwa isteri harus tunduk kepada
suami. Hal ini akan menjadi mudah jika karakter dari sang suami sudah
terbentuk menjadi pribadi yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.
Tetapi ada sebagian isteri yang masih menghadapi suami mereka yang
masih memiliki karakter yang keras dan bahkan tidak menghargai
isterinya. Bukan hal yang mudah bagi seorang isteri yang selalu
dimarahi, mungkin juga hingga mengalami kekerasan fisik; untuk menerima
keadaannya dan tetap tunduk kepada suaminya serta tetap setia menjadi
penolong bagi suaminya bahkan hingga akhir hidupnya. Tahun-tahun yang
dilalui dengan berbagai penderitaan merupakan suatu ujian bagi para
isteri.
*courtesy of PelitaHidup.com
Firman Tuhan senantiasa mengingatkan kita bahwa tidak ada segala sesuatu
yang terjadi dalam hidup kita yang tanpa sepengetahuan Tuhan.
Se-negatif apapun sikap suami terhadap isteri, sebagai seorang isteri
yang sudah mengenal Tuhan harus memegang teguh apa yang telah
diperintahkan Tuhan.
Dengan tunduk kepada suami, tetap mengasihi dia dalam segala keadaan,
tetap sabar dalam kesesakan, tetap percaya dan berdoa kepada Yesus,
maka sang isteri akan melihat karya Tuhan yang bekerja dalam diri sang
suami (1 Pet 3:1-2).
Karakter lemah lembut dan penuh penundukkan diri dari seorang isteri
akan membuat suami yang sebelumnya memiliki karakter yang keras, akan
berubah. Kasih akan mengalir lewat sang isteri dan menjamah hati suami.
Suami akan dimenangkan melalui perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan
kehendak Tuhan.
Tidak ada hati yang terlalu keras untuk dapat dilembutkan oleh aliran kasih Yesus.
.
2. Suami
“Demikian juga kamu, hai
suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih
lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia,
yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang. ” 1 Pet 3:7
*courtesy of PelitaHidup.com
Suami memiliki tanggung jawab yang besar atas keluarganya, baik isteri
maupun anak-anaknya. Suami merupakan gambaran Kristus dan isteri
merupakan gambaran dari umat Tuhan. Suami harus bisa menjadi pribadi
yang senantiasa mengasihi, menjaga, melindungi, mencukupi, merawat,
menemani, menghibur, dan memotivasi isterinya, kapanpun dan dimanapun
diperlukan. Ini merupakan tugas yang sangat berat bagi suami.
Kecenderungan akan mengejar karir dalam pekerjaan maupun harta kekayaan
dapat membuat suami tidak dapat sepenuhnya mengasihi isterinya.
“Bagaimanapun juga, bagi kamu
masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan
isteri hendaklah menghormati suaminya.” Ef 5:33
Mengasihi isteri bukanlah berarti hanya mencukupi segala kebutuhannya
dengan materi bahkan memberikan segala kemewahan yang ada di dunia ini,
tetapi lebih kepada sikap suami terhadap isteri.
Firman Tuhan mengatakan bahwa suami harus mengasihi isterinya seperti
dirinya sendiri. Pertanyaan ini perlu diajukan kepada diri para suami:
“Apa yang akan Anda lakukan demi kebutuhan, keperluan, keinginan/kemauan diri Anda sendiri?” Jawaban atas pertanyaan tersebut harus juga dilakukan oleh para suami untuk isterinya.
Kunci utama bagi suami untuk dapat mengasihi isteri seperti mengasihi diri sendiri adalah dengan
melepaskan harga diri atau yang sering disebut dengan
ego.
Isteri bukanlah sebagai pelengkap kehidupan, melainkan teman pewaris dari kasih karunia. Jika Firman Tuhan katakan
“Teman Pewaris”, artinya adalah bahwa isteri mempunyai hak yang sama dengan hak yang dimiliki oleh suami.
Lepaskan segala keinginan untuk merasa lebih tahu, merasa lebih
pintar, merasa selalu benar, merasa tidak pernah salah, merasa lebih
hebat dan lain sebagainya. Berikan perhatian khusus bagi isteri sehingga
mereka dapat merasa bahwa mereka adalah seorang pribadi yang memiliki
arti yang spesial bagi hidup suaminya. Hargai setiap pendapat isteri,
dengarkan nasehat yang diberikan isteri dan perhatikan apa yang
dikatakan oleh isteri. Dan dengan demikian sikap suami terhadap
isterinya tidak akan menjadi penghalang bagi doa yang dinaikkan.
Pada akhirnya, kasih Kristus harus menjadi pengikat bagi suami dan
isteri. Jangan jadikan hal lain sebagai pengikat atau pemersatu bagi
rumah tangga.
Ada beberapa pasangan yang bisa dikatakan terlalu berlebih memberi
perhatian kepada anak-anak mereka, sehingga tanpa sadar kasih kepada
pasangannya mulai meluntur. Hal ini akan membawa dampak yang negatif
ketika anak-anak tumbuh menjadi dewasa hingga menikah dan meninggalkan
orang tua mereka. Banyak pasangan yang retak pada titik ini, oleh karena
mereka menjadi anak-anak mereka sebagai pemersatu Sehingga pada saat
anak-anak mulai membangun rumah tangga mereka sendiri, tidak ada lagi
yang dapat mengikat rumah tangga mereka.
Kasih Yesus merupakan tali pemersatu yang begitu kuat. Tidak ada
satupun yang dapat melepaskan ikatan tali kasihNya dalam rumah tangga.
Pasangan suami-isteri yang menjadikan kasih Yesus sebagi pengikat akan
merasakan kasih sayang di antara mereka semakin bertambah hari demi hari
bahkan terus bertambah hingga pada masa tuanya.
“Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. ” Yud 1:21